Kebahagiaan di Dalam Kulkas

20:52 Reporter: Haris Firdaus 5 Responses
: k&r

Pernikahan datang membawa bingkisan paling besar.

“Ini kado untuk kalian,” katanya, “sebuah kebahagiaan
tanpa bahan pengawet yang lebih baik dimasukkan kulkas.”

Kalian tersenyum padanya karena tahu bahwa kebahagiaan
memang harus disimpan dalam kulkas dan dipanasi sesekali.

“Supaya tetap dingin dan tahan lama,” ia menambahkan.

“Supaya tetap hangat dan bercahaya,” sahut kalian.

Oktober 2007

Read more...

Surat dari Ayah

20:51 Reporter: Haris Firdaus 4 Responses
(1)
Jangan heran kalau esok tiba-tiba ayah mati

Sebab hidup adalah perjamuan dengan nyawa
yang dimakan tanpa jeda, dan air mata
yang diminum tanpa sisa

Di meja bundar tempat kita biasa
makan malam itu, kita ngobrol patah-patah
tentang keluarga, cinta, dan dewasa yang terbata

“Suatu saat, meja ini mungkin jadi tempat
malam terakhir yang kita makan.”

(2)
Maka, bila waktu itu tiba

Minumlah air mata dari mata airnya yang mengalir
di mataku dan makanlah nyawa dari piring
yang tersendat di kerongkonganku.

Oktober 2007

Read more...

Sajak Setengah Tiang

20:50 Reporter: Haris Firdaus 0 Responses
: Toto Sudarto Bachtiar

Senja tak lagi bisa menunda perkabungan
bahkan di pelabuhan paling awal sekalipun

Kami kabarkan sajak setengah tiang
untuk seorang pahlawan tak dikenal
dan seorang penyair yang meramalkan
ajalnya sendiri

“Sajak, adakah kematian, seperti katanya,
telah merayapi jemari, dan menusuk
sanubari paling lubuk?”

“Penyairku, kenapa selalu ada penghabisan
dalam sajakmu tentang kematian?”

Selamat jalan senja,
Semoga puisimu diterima di sisi-Nya.

Oktober 2007

Read more...

Perasaan Bersalah

20:48 Reporter: Haris Firdaus 0 Responses
Hari ini,
perasaan bersalah tiba-tiba berubah
menjadi cinta yang tergesa hendak disampaikan

Dan ungkapan maaf
menjelma jadi kekasih paling cantik
yang tak jemu kita rindukan.

Oktober 2007

Read more...

Lebaran

20:48 Reporter: Haris Firdaus 0 Responses
Semoga kita dilahirkan kembali menjadi puisi
dengan metafora yang tak pernah berdusta
dan frasa yang enggan berbuat dosa

Semoga kata dilahirkan kembali sebagai mantra
dengan makna yang tak lagi dikhianati
dan diksi yang tak lekas jadi basi.

September 2007

Read more...

Kenapa Meributkan Celana Dalam, Penyairku

20:46 Reporter: Haris Firdaus 0 Responses
“Kenapa mesti meributkan celana dalam, Wahai Penyair?
Bukankah rakyat sedang kelaparan dan harga bahan pokok
melangit?” tanya lelaki brewok itu pada kalian.

Dan kalian maklum:
Baginya, revolusi belum selesai.

“Kenapa mengumbar celana dalam di muka sajak, Penyair?
Bukankah ia seharusnya ditimbun dalam sajak paling
dalam?” kata seorang lelaki tua bertopi yang menangis
karena khawatir moral turun lagi.

“Kenapa hanya tertarik pada celana dalam, Lelaki?
Bukankah isinya jauh lebih menarik?” selidik
novelis perempuan itu keheranan.

Sekali lagi, kalian maklum:
Penyair memang belum jadi jagoan yang boleh
memakai celana dalam di luar.

September 2007

Read more...

Pelajaran Agama

08:45 Reporter: Haris Firdaus 0 Responses
“Hal utama yang mesti kau ingat, Muridku,
adalah bahwa surga paling tidak mirip
dengan puisi.”

September 2007

Read more...